Jaman Baper
Temen gue nulis puisi, bacanya sedih asli kalo ngalamin sendiri.
Temen gue ini kadang ga bisa dibilang temen. Satu sekolah tapi ga boleh sering nyapa. Mau deket-deket nanti dibilang caper sama temennya sendiri:). Apalagi beda organisasi. Si temen ini bisa jadi angat sangat bau sama gue. Sebaliknya juga gue pasti dianggep nyebelin di depan dia. Tapi kalo udah bertemen kita ga ngomongin itu sama sekali ea. Paling gue yang brengsek nyelip nyelip kepo kenapa tadi bisa kejaidan senyebelin itu. Sampe baper.
Yaudah gausah lama lama ini puisinya....
BAGIAN DIRIMU
Aku
Bagian dari dirimu
Aku, segala yang kau inginkan
Aku, canda dalam rautmu
jawaban setiap mimpimu
hasil dari asamu
karya dari perbuatanmu
orang yang terpaut padamu di seberang sana
Aku
yang berada ribuan kilometer darimu
Seiring waktu jumlahnya mengurang
Seiring waktu kita dipertemukan
karena benang yang kusulam
membentuk namamu di kain
Aku disini, cinta
meraihmu dari jauh
menunggu dalam bisikkan
memelukmu dalam hembusan
Lalu tertidur tanpa dekapan
Karena yang kupegang tak nyata
yang kuharap tak masuk akal
yang kuinginkan tidak tahu
Bahwa aku adalah mimpi dalam tidurnya
Bahwa aku adalah nyanyian dalam sunyinya
Bahwa aku adalah warna dalam matanya
Bahwa aku
adalah hangat dalam air matanya
Aku
hanya terkapar
hanyut dalam haluan tak berakhir
Apakah yang kau rasakan?
mendapati bagian dirimu
bukan bidadari permai sungai
namun hanya secercah cahaya bintang
yang hangat, melukis senyummu setiap saat?
s.s.s
Temen gue ini kadang ga bisa dibilang temen. Satu sekolah tapi ga boleh sering nyapa. Mau deket-deket nanti dibilang caper sama temennya sendiri:). Apalagi beda organisasi. Si temen ini bisa jadi angat sangat bau sama gue. Sebaliknya juga gue pasti dianggep nyebelin di depan dia. Tapi kalo udah bertemen kita ga ngomongin itu sama sekali ea. Paling gue yang brengsek nyelip nyelip kepo kenapa tadi bisa kejaidan senyebelin itu. Sampe baper.
Yaudah gausah lama lama ini puisinya....
BAGIAN DIRIMU
Aku
Bagian dari dirimu
Aku, segala yang kau inginkan
Aku, canda dalam rautmu
jawaban setiap mimpimu
hasil dari asamu
karya dari perbuatanmu
orang yang terpaut padamu di seberang sana
Aku
yang berada ribuan kilometer darimu
Seiring waktu jumlahnya mengurang
Seiring waktu kita dipertemukan
karena benang yang kusulam
membentuk namamu di kain
Aku disini, cinta
meraihmu dari jauh
menunggu dalam bisikkan
memelukmu dalam hembusan
Lalu tertidur tanpa dekapan
Karena yang kupegang tak nyata
yang kuharap tak masuk akal
yang kuinginkan tidak tahu
Bahwa aku adalah mimpi dalam tidurnya
Bahwa aku adalah nyanyian dalam sunyinya
Bahwa aku adalah warna dalam matanya
Bahwa aku
adalah hangat dalam air matanya
Aku
hanya terkapar
hanyut dalam haluan tak berakhir
Apakah yang kau rasakan?
mendapati bagian dirimu
bukan bidadari permai sungai
namun hanya secercah cahaya bintang
yang hangat, melukis senyummu setiap saat?
s.s.s
Comments
Post a Comment